Kampung Yenggu Lama, salah satu wilayah adat Suku Namblong di Kabupaten Jayapura, menjadi bukti hidup bagaimana perempuan adat berperan sebagai garda terdepan dalam menjaga ketahanan pangan di tengah tantangan perubahan iklim. Melalui Proyek Next Level Grant Fund – Voices for Climate Action, studi dampak perubahan iklim berbasis SDGs ini mengedepankan metode Focus Group Discussion (FGD) yang melibatkan perempuan kampung untuk menggali potensi pangan lokal, peran gender, dan keberlanjutan pangan.
Menyelami Kekayaan Pangan Lokal
Dalam FGD yang berlangsung pada 14 November 2024, terungkap bahwa Kampung Yenggu Lama menyimpan kekayaan pangan lokal yang luar biasa. Mulai dari pisang, jagung, singkong, hingga sayuran khas seperti gedi, pakis, dan genemo. Pengolahan pangan ini dilakukan dengan metode tradisional seperti memasak di tungku api dengan kayu bakar dari hutan sekitar, mempertahankan cita rasa otentik yang ramah lingkungan.
Para perempuan di kampung ini tidak hanya bertani untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, tetapi juga menjadi pewaris pengetahuan kuliner yang diwariskan turun-temurun. Tokoh perempuan seperti Ibu Dorlina Bano/Waisimon (64 tahun) dan Ibu Selvina Bano/Waisimon (52 tahun) menjadi penjaga resep-resep khas yang selalu hadir dalam acara adat kampung.
Perempuan, Penjaga Pangan dan Harapan Kampung
Meskipun perempuan menjadi tulang punggung dalam ketahanan pangan, mereka masih menghadapi batasan sosial dalam ruang pengambilan keputusan. Dalam adat kampung, perempuan hanya berperan sebagai pendengar dan penyedia konsumsi saat pertemuan adat berlangsung. Namun, suara perempuan mulai terdengar lebih nyaring saat pertemuan yang membahas pembangunan kampung dan kesejahteraan masyarakat.
Partisipasi aktif perempuan dalam diskusi ini menegaskan bahwa mereka tidak hanya sekadar pengelola pangan, tetapi juga penggerak perubahan dalam mewujudkan ketahanan pangan yang berkelanjutan.
Warisan Kuliner yang Kaya Gizi
Dalam sesi berbagi pengetahuan, perempuan kampung memperkenalkan beberapa resep pangan lokal yang kaya nilai gizi, seperti:
- Swamening (Gedi Gulung): Kombinasi sagu, kelapa parut, dan sayur lilin yang dibungkus daun gedi dan direbus.
- Swademsing (Gedi Gulung Bakar): Versi panggang dari swamening dengan tambahan daun nasi sebagai pembungkus.
- Sagu Sebeta (Sagu Ulat Sagu): Pangan kaya protein dari ulat sagu yang dibungkus sagu dan dibakar hingga matang.
Resep-resep ini menjadi bukti bahwa pola makan sehat berbasis pangan lokal sudah diterapkan oleh masyarakat Yenggu Lama sejak lama.
Menuju Ketahanan Pangan Berbasis Kearifan Lokal
Partisipasi perempuan dalam FGD ini menjadi tonggak penting dalam memperkuat ketahanan pangan berbasis SDGs, khususnya Tujuan 2 (Tanpa Kelaparan) dan Tujuan 5 (Kesetaraan Gender). Studi ini diharapkan menjadi langkah awal untuk meningkatkan peran perempuan dalam pengambilan keputusan dan pengelolaan sumber daya alam.
YAPAL, sebagai fasilitator proyek, akan terus mendukung masyarakat adat dalam memperkuat ketahanan pangan berbasis kearifan lokal, membangun ketahanan masyarakat terhadap perubahan iklim, dan memperjuangkan hak-hak perempuan dalam pembangunan berkelanjutan.

