Perubahan iklim membawa dampak yang signifikan bagi masyarakat adat yang hidup bergantung pada sumber daya alam. Kampung Yenggu Lama, yang terletak di Distrik Nimboran, Kabupaten Jayapura, menjadi salah satu wilayah yang menghadapi tantangan besar dalam menjaga ketahanan pangan dan keberlanjutan lingkungan. Sebagai upaya memahami dampak perubahan iklim dan memperkuat kapasitas masyarakat, studi dampak perubahan iklim berbasis Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) dijalankan pada November 2024 melalui Proyek Next Level Grant Fund – Voices for Climate Action (NLGF-VCA).
Studi untuk Suara Komunitas yang Inklusif
Studi ini menggunakan metode wawancara mendalam dan diskusi kelompok terfokus (FGD) berbasis gender yang melibatkan masyarakat kampung dari berbagai kelompok, termasuk perempuan, lansia, dan pemuda. Pendekatan ini membuka ruang bagi masyarakat untuk berbagi pengalaman, pemahaman, dan strategi mereka dalam menghadapi perubahan iklim.
Temuan studi menunjukkan bahwa perubahan pola curah hujan dan musim yang tidak menentu telah berdampak besar pada produktivitas pertanian, terutama kebun tradisional yang menjadi penopang pangan utama masyarakat. Kelompok perempuan, yang memainkan peran penting dalam pengelolaan rumah tangga dan pertanian, menjadi kelompok yang paling terdampak. Mereka menghadapi peningkatan beban dalam memastikan ketersediaan pangan keluarga di tengah kondisi lingkungan yang semakin tidak menentu.
Ketimpangan Akses dan Tantangan Keberlanjutan
Meskipun kampung ini memiliki akses listrik dan air bersih yang cukup baik, ketergantungan masyarakat pada kayu bakar dan kebun tradisional menjadi tantangan dalam mendukung keberlanjutan jangka panjang. Perbedaan akses terhadap sumber daya alam antara penduduk lokal dan kelompok transmigrasi juga memperburuk ketimpangan sosial dan ekonomi. Keterbatasan pengetahuan dan kapasitas dalam mengelola sumber daya alam secara berkelanjutan menjadi kendala dalam menghadapi dampak perubahan iklim.
Kearifan Lokal dan Harapan Kolaborasi
Masyarakat Yenggu Lama telah menerapkan praktik adaptasi berbasis kearifan lokal, seperti pola tanam musiman dan perlindungan hutan adat Ku Defeng Akrua. Namun, implementasi upaya konservasi ini masih terbentur oleh kurangnya aturan hukum yang jelas dan dukungan teknis yang memadai.
Proyek NLGF-VCA diharapkan menjadi langkah awal dalam memperkuat kapasitas masyarakat untuk beradaptasi dengan perubahan iklim. Sinergi antara pemerintah kampung, masyarakat, LSM, dan sektor swasta menjadi kunci dalam memastikan keberlanjutan program dan memperkuat suara masyarakat adat dalam pengelolaan sumber daya alam.
Menuju Ketahanan Berbasis Komunitas
Melalui studi ini, masyarakat Yenggu Lama mendapatkan ruang untuk memperkuat kapasitas adaptasi, mendokumentasikan pengetahuan lokal, dan membangun kolaborasi yang lebih inklusif. Dengan pendekatan berbasis gender dan partisipasi aktif seluruh komunitas, diharapkan proyek ini mampu menjadi model bagi pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan dan ketahanan masyarakat adat dalam menghadapi perubahan iklim.
YAPAL dan Proyek NLGF-VCA akan terus mendukung masyarakat Yenggu Lama dalam memperjuangkan hak atas lingkungan yang lestari, memperkuat ketahanan ekonomi berbasis lokal, dan memperkuat kolaborasi lintas sektor untuk masa depan yang lebih tangguh.

